Benarkah Asal-usul Bangsa Israel Berasal Dari Nusantara
Wadul News - Sebuah hipotesa datang dari Mang Enjang, seorang petani dari Kadusunan Agung Legokbarong. Yakni hipotesa tentang asal-usul bangsa Israel dari Indonesia. Mang Enjang menggunakan pendekatan budaya, ia menemukan adanya korelasi antara lambang Bintang Daud dengan anyaman bambu tradisional yang ada di Indonesia.
Bintang Daud
| Bintang Daud |
Berdasarkan penelusuran di Wikipedia, Bintang Daud adalah lambang yang sudah sangat lumrah digunakan sebagai tanda jati diri Yahudi dan agama Yahudi. Lambang ini adalah sebuah heksagram, gabungan dua gambar segitiga sama sisi.
Pada abad ke-19, lambang ini mulai sering digunakan oleh paguyuban-paguyuban Yahudi di Eropa Timur, dan akhirnya digunakan pula oleh paguyuban-paguyuban Yahudi di Lingkungan Permukiman.
Faktor utama yang mendorong penggunaan lambang ini, menurut ilmuwan Gershom Sholem, adalah keinginan untuk memiliki tanda khusus yang melambangkan agama dan/atau jati diri Yahudi, sebagaimana salib digunakan sebagai lambang agama dan jati diri Kristen.
Lambang Bintang Daud pertama kali digunakan oleh orang Yahudi ketika para pengikut Kabalah mengambil gambar Mohor Sulaiman dari khazanah sastra Arab Abad Pertengahan untuk digunakan sebagai azimat pelindung diri.
Lambang ini juga digunakan sebagai ragam hias di gereja-gereja Kristen selama berabad-abad sebelum digunakan untuk pertama kalinya di sinagoge Yahudi.
Penggunaan lambang ini secara resmi di kalangan paguyuban-paguyuban Yahudi sebelum abad ke-19, pada umumnya diketahui hanya terjadi di kawasan yang kini menjadi wilayah Republik Ceko, Austria, dan mungkin pula di beberapa daerah di kawasan selatan Jerman, setelah mulai digunakan di Praha pada abad pertengahan.
Bintang Daud digunakan sebagai lambang paguyuban Zionis sedunia, dan di kemudian hari digunakan pula oleh paguyuban-paguyuban Yahudi lainnya, setelah Bintang Daud dipilih menjadi lambang utama pada bendera yang dikibarkan dalam penyelenggaraan Kongres Zionis Pertama pada 1897.
Yahudi 'Pulang' Ke Nusantara
Media Online Suara Jatim, mengutip dari Rubrik Khazanah Koran Republika yang pernah mengulas jejak Yahudi di Surabaya ini. Dalam artikel setahun lalu itu, disebutkan kalau petualangan Yahudi di bumi Nusantara ini tak lepas dari ekspedisi Portugis.
Setelah Portugis menemukan jalan ke India dan Asia Tenggara, banyak orang Yahudi—lebih dulu menjadi Kristen—terlibat dalam ekspedisi pada awal abad ke-16. Kebanyakan dari mereka tidak kembali, tapi bermukim di sepanjang pantai utara Sumatera dan Jawa.
Jumlah pemukim Yahudi di nusantara berkembang seiring kemunduran Portugis dan munculnya VOC di nusantara pada 1602.
Namun, tidak ada dokumen yang menyebut jumlah pemukim Yahudi pada awal pendirian Batavia. Setelah VOC bangkrut pada 1799, Pemerintah Hindia-Belanda juga tidak mencatat jumlah orang Yahudi di kota-kota di Jawa dan Sumatra.
VOC dan Pemerintah Hindia-Belanda memang menjalankan politik segregasi etnis, tapi tidak memisahkan Yahudi dari masyarakat Belanda. Politik segregasi hanya mencakup orang-orang China, inlander (pribumi), Arab, Moor, dan kulit putih non-Belanda.
Yahudi asal Belanda masuk ke dalam kelompok pemukim Belanda. Sedangkan, Yahudi yang datang dari Jerman, Prancis, Spanyol, Austria, Inggris, dan lainnya masuk kelompok masyarakat kulit putih non-Belanda.
Di Surabaya, keluarga yang pertama diketahui bermukim di sana tercatat pada Tahun 1871. Ada tiga keluarga keturunan Persia tinggal di Kota Buaya itu. Sementara Yahudi Eropa menyebar di wilayah-wilayah lain di Jawa Timur, dimana komunitas mereka disebut Israelietisch.
Carangka, Keranjang atau Bongsang Tradisional Bermotif Heksagon
Seiring penggunaan kantong berbahan plastik resmi dilarang di DKI Jakarta, penggunaan wadah tradisional 'Bongsang' dapat menjadi pilihan kantong saat berbelanja.
Bongsang merupakan wadah yang terbuat dari anyaman bambu yang populer digunakan masyarakat pada tahun 80an hingga 90-an.
Bongsang pada awalnya sering digunakan para ustaz atau ulama untuk membawa buah-buahan maupun makanan sepulangnya dari acara keagamaan atau pengajian.
Dari situ, mengingat belum adanya kantong kresek, Bongsang pun menjadi popular di tengah masyarakat, sehingga kerap digunakan membawa barang belanjaan dari pasar.
Bongsang sendiri terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk seperti keranjang. Bongsang dipilih karena ketahanannya dan mudah untuk dibersihkan.
Namun kelemahannya, Bongsang tidak dapat membawa produk belanjaan yang berukuran kecil. Sebab anyaman Bongsang cenderung memiliki lubang yang lebar.
Untuk melestarikan Bongsang juga kerap dijadikan ajang festival. Di Sumedang, Bonsang juga menjadi wadah menyajikan kuliner khas Sumedang yakni Tahu Sumedang.
Di beberapa tahun terakhir, pembagian daging kurban, Bongsang juga dijadikan sebagai wadah pembungkusnya.
Keterkaitan Carangka Dengan Bintang Daud
Penggunaan carangka, bongsang atau keranjang tradisional memang sudah tidak sepopuler dahulu. Namun, bagi anda yang lahir sekitar tahun 80-an awal dan tinggal di pedesaan di pulau Jawa, anda tidak akan asing dengan benda ini.
Penulis sendiri yang lahir pada tahun 1984, masih bisa mengingat carangka yang kerap digunakan sebagai wadah untuk rumput pakan kambing atau sapi. Warga desa yang memiliki ternak biasanya memberi pakan hewan ternaknya dengan rumput.
Penggunaan karung saat itu masih jarang, berbeda dengan sekarang. Maka carangka adalah tempat utama yang dipakai warga desa untuk pergi mencari rumput di ladang, sawah atau di tepian sungai-sungai.
Pola Anyaman Heksagonal
Meskipun banyak motif atau pola anyaman, namun penulis ingat, pola anyaman Heksagon adalah pola anyaman paling banyak digunakan, karena pola ini dianggap lebih kokoh untuk menampung rumput yang dijejal.Bukan hanya rumput, carangka juga kadang-kadang digunakan untuk mewadahi barang yang lebih berat dari rumput, seperti pisang yang baru dipanen, ubi singkong atau lainnya. Maka penggunaan pola anyaman heksagonal ini lebih populer digunakan.
Kesimpulan
Sebagaimana telah dibahas di beberapa sub-judul di atas, bisa kita simpulkan bahwa pola anyaman heksagonal memiliki akar budaya yang sangat kuat, dan juga menjadi simbol kekuatan.Kemudian oknum bangsa Yahudi pun demikian, mereka mengklaim bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan yang spesial, memiliki kekuatan, kecerdasan melebihi rata-rata bangsa lainnya di dunia.
Oleh karena itu, maka tidaklah mengherankan jika bangsa Yahudi menyandarkan filosofi bangsa mereka dengan lambang bintang Daud yang membentuk heksagonal.
Bahkan Negara Israel, menjadikan bintang Daud menjadi bagian utama di tengah bendera mereka. Dan bintang Daud adalah sangat identik dengan pola anyaman carangka bangsa di Nusantara, pola anyaman yang menjadi kekuatan keranjang tradisional sandaran hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan yang bisa kita peroleh adalah, bangsa Nusantara merupakan asal-usul dari bangsa Israel. Bangsa Nusantara yang gagah berani karena memiliki bekal kekuatan dengan carangka berpola Heksagon.
Mengenai konflik Israel dan Palestina, sepertinya orang Israel tidak akan menang. Karena Mereka mengklaim tanah bangsa filistin. Dan sama sekali bukan tanah leluhur mereka. (Nugelo)
*Dari berbagai sumber